Kamis, 15 Agustus 2019

Secangkir teman hidup

Ibarat minum Kopi tanpa gula rasanya pasti hambar
Begitupun dengan kehidupan, bila hidup tanpa masalah rasanya tak ada bedanya dengan mati





https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwioyICEsYbkAhXEqo8KHZ1YAB4QMwjqAShhMGE&url=https%3A%2F%2Fuzone.id%2Fdisukai-banyak-orang-ternyata-minum-kopi-bisa-picu-kanker-darah-sejak-dini&psig=AOvVaw3d1-KGKBAG0BRAl7lWqfZ-&ust=1566010278503007&ictx=3&uact=3

  Pyok..Pyok...Pyok (Suara anak kecil yang sedang mainan air dalam selokan depan rumah)
Saat itu, datanglah seorang laki-laki bertubuh kurus dan bermuka sudah keriput mengetuk pintu rumahku, tanpa berpikir panjang kuraih gagang pintu dan kubuka ...
laki-laki itu diam tanpa kata dan hanya menyodorkan sebuah undangan yang bertuliskan namaku, Sariman.
Aku terheran dengan lagat laki-laki ini, kenapa dia ketuk pintuku dan tanpa ucapkan salam kepadaku, karena penasaran, aku kembali melontarkan balasan ucapan terimkasih kepada bapak ini. Namun, bapak ini tetap saja diam seribu kata dan bergegas membalikkan wajah dan tubuhnya. Karena tanpa sahutan, aku memutuskan untuk mengikuti laki-laki ini dari jarak kejauhan. Berjarak 35 km dari masjid jami', laki-laki kurus itu memunguti botol bekas yang ada dalam tong sampah. Kuputuskan kembali untuk seharian ini mengikuti jejak langkah kaki laki-laki kurus itu, sesampainya di sebuah rumah tanpa atap genteng dan berdindingkan sebuah bambu rapuh ini, laki-laki tersebut masuk ke rumah dan menghampiri ke empat anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Dengan perasaan semakin penasaran, aku putuskan untuk mendekati satu dari keempat anak kecil yang sedang bermain petak umpet tadi, kutanya dia dengan sangat lembut dan perasaan penuh harap, "Dik, laki-laki yang masuk ke rumah itu siapa?" Anak kecil itu menjawab, "dia adalah Pak Kardi, orang yang sudah membesarkan kami sejak kami lahir ke dunia ini.
Meneteskan air mata......
Fikiranku kemudian menyahuti hatiku dan berkata, Pak Kardi adalah seorang malaikat yang tak bersayap dan dikirim Tuhan untuk menjadi sosok pejuang kehidupan.
Pak Kardi, adalah seorang pemulung yang memiliki jiwa dermawan bak Malaikat kehidupan. Ia merupakan seorang yang bisu, tuli akan tetapi amat sayang pada semua orang, dibalik ujiannya yang tinggal tanpa seorang istri dan harus menghidupi empat anak kecil yang ia temukan saat memungut sampah di dekat taman bunga kala itu. Pak Kardi rela melakukan semua pekerjaan yang ada tanpa memikirkan berapa ongkos yang akan ia terima saat bekerja, yang ada di dalam prinsip hidupnya adalah aku tidak memberatkan hidup orang lain dan aku mampu memungut rezeki yang telah Allah sebar dengan kedua tanganku ini.
Subhanallah......
Merinding aku mendengar jawaban Pak Kardi
Meskipun, ke empat anak kecil itu bukan anak yang lahir dari istrinya, Pak Kardi mengasihi mereka dengan rasa penuh kasih sayang. Pak Kardi menyiapkan makan mereka dengan lauk pauk seadanya kerupuk rambak dan empat potong tempe goreng. Mereka terlihat sangat bahagia dan langsung meraihnya dengan tangan mungilnya, mereka makan berempat sedang Pak Kardi hanya diam memandangi wajah lucu mereka..
Matahari telah menenggelamkan wajahnya, bergegaslah aku menenteng tas warna cokelatku sambil kupegang kedua tanganku berjalan ke arah utara masjid jami' menuju tempat tinggalku.
Setelah adzan maghrib, sepulang dari masjid jami' ku putuskan untuk menghampiri warung kopi samping kiri dari masjid. Ku pesan dua cangkir kopi yang berbeda racikan. Secangkir kopi tanpa gula dan secangkir dengan gula. Sedikit demi sedikit ku coba nikmati. Pertama aku nikmati secangkir kopi tanpa gula rasanya benar-benar pahit, yang kedua aku nikmati secangkir kopi dengan gula rasanya sangatlah manis. Setiap tegukan kopi yang kunikmati ini, kusisipkan ingatan tentang Pak Kardi. Hidup Pak Kardi ini ibarat racikan kopi yang berawal dari bijih kopi yang sudah masak kemudian dijemur di bawah panas terik matahari dan dihaluskan sehingga menjadi bubuk kopi. Bukan bubuk kopi yang biasa, akan tetapi menjadi bubuk kopi yang harum dan lezat.
"Hidup ini bukan soal seberapa banyak harta yang kita kumpulkan setiap harinya, namun pada seberapa banyak kita mampu menebar kebaikan dari setiap harta yang kita dapatkan setiap harinya, harta bukan soal uang saja namun keluarga,anak,istri,ketenangan dan kebahagian, serta mampu bangkit dari keadaan itulah harta sebenarnya"

Dari kisah ini kita mendapatkan pelajaran berharga mengenai kehidupan, bahwa manusia hidup ini penuh masalah tapi jangan jadikan masalah sebagai penghambat diri untuk terus berproses serta berprogres.
Rasulullah saw. sendiri meminta pada Allah agar tidak memusnahkan masalah akan tetapi untuk memudahkan masalah, tujuannya adalah agar menuju insan yang muttaqiin. Insan yang terus menikmati sebuah proses dan melakukan perbaikan, perbaikan hubungan kita pada sesama manusia (Hablumminannaas) dan hubungan kita pada Allah swt sebagai pencipta kita (Hablumminaallah).
Wallahu a'lam bisshowab.........


Semoga kita menjadi golongan orang-orang yang beruntung (Muflikhun). Aamiin yaa robbal 'aalamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar