Minggu, 18 Agustus 2019

Isak Tangis Soal Jodoh

Malam semakin larut cahaya hitam mulai memenuhi kumpulan awan yang berwarna merah kesemuan





Aku beranjak pulang dari kegiatan mengajar TPQ.
Saat itu, aku tinggal di pemukiman yang berjarak kurang lebih 20 hasta dari TPQ tempatku mengajar kawanan kecil berjilbab biru.
Oh ya perkenalkan namaku Satino, aku anak seorang pande besi di desa Pasar Jambe. Tiap hari masa hariku diisi dengan kegiatan yang mayoritas berada dalam masjid, membersihkan sampah di sekitar masjid, menata al qur'an dan mukena milik masjid, dan mengajar TPQ di masjid.  Begitulah hari-hariku.
Musim riyaya besar (sebutan waktu untuk tibanya musim orang pergi ke tanah suci dan musim orang menikah). Di Musim itu sangatlah ramai orang punya gawe
Karena banyak teman sekawanku juga yang sudah banyak menikah, akhirnya kegelisahanku juga semakin berkecamuk dan terbesit tanya di hati... Karena banyak untaian kata yang ditujukan padaku oleh masyarakat daerahku, 
Aku bingung.. Aku murung...
Suatu ketika, ada laki-laki bertubuh lancong, berdada besar dan berkumis datang ke rumahku untuk yang pertama kalinya, ia masuk ke rumah dan menemui ibuku. 
Laki-laki itu bertanya kepada ibukku... Tentang bagaimana aku, kebetulan hari itu hari kamis ba'dha ashar, setelah berbicara sangat lama, laki-laki itu memutuskan untuk pulang... Selang beberapa minggu kemudian, laki-laki itu tiada kabar. Tak lama kemudian, datang kembali pada pintu rumahku laki-laki berbadan krempeng dan berambut ikal menghampiri ibukku dan menanyakan tentangku.. Setelah berbicara agak lama, laki-laki itu berfikir cukup lama...  Dan tiba-tiba meminta diri untuk pulang...
Dua bulan kemudian... Si laki-laki ini juga tak kunjung ada kabar...
Aku semakin bingung dan tak tahu apa yang harus aku lakukan...  Ya, kondisiku lagi di luar kota jauh dari kota kelahiranku. Aku memutuskan untuk berbicara dengan takdirku,  mengapa aku begini, mengapa kejadiannya begini,  sayangkah tuhanku padaku? 
Aku memutuskan untuk tabarukkan ke rumah guruku dulu semasa menjadi anak pondok di Madin "Insan Kariim".
Setelah perjalanan panjang, aku berhasil menemui guruku dulu.. Guruku berkata padaku, nikmati masa mudamu dan berjuanglah untuk agamamu,  kamu jangan khawatir akan nasibmu, yakinlah di sana akan ada laki-laki tampan dan sholih yang setia tuk jadikan seorang suami, memang merubah nasib itu sulit tapi dengan keyakinan kamu pasti bisa. Bukankah Allah sudah berfirman dalam surat ar rum ayat 21?
"Dan telah diciptakan oleh-Nya manusia beserta pasangannya? "
Aku tak nangis dan hanya tersenyum melihat kata-kata guruku,
Dan akhirnya setelah lama berbincang-bincang soal jodoh aku pulang dan memutuskan untuk memperbaiki diri.
Aku memberikan sentimen pada fikiranku... Kalau aku mau jodoh, berarti amal ibadahku harus di tingkatkan lagi.
Selang beberapa dentingan penunjuk jam, guru-guruku tiba-tiba membisikkan kata-kata di telingaku ... Jodohmu sudah ada ndok.. Tinggal menunggu waktu yang pas saja. Bersabarlah bukan kah Allah Menyukai sekali orang yang sabar dan beserah diri?
Di usiamu yang segini pasti banyak laki-laki yang keluar masuk rumah tuk menanyakan hatimu,
Tapi percayakan semuanya pada Sang Pemilik hati, bahwa pasangan hidup yang baik adalah yang mampu mengantarkanmu ke pintu depannya surga, mampu mengarungi desiran ombak samudra bersama dan menyelupi kebahagian dan kesusahan bersama.
Belajarlah menjadi pribadi seperti besi, yang ditempa berulang kali dengan sangat keras akhirnya menjadi sebuah bentuk olahan besi yang membentuk berbagai macam bentuk, misalnya jadi pagar, jadi tiang dan alas rumah. Dan hindari diri mrnjadi pribadi seperti kaca yang mudah rapuh saat terbanting.
Ku harap kau jadi besi yang kuat dan memiliki jual yang tinggi.
Tak perlu menangisi keadaan, jangan takut soal jodoh ataupun pasangan hidup.  Isak tangis hanyalah dimiliki oleh dia yang tak siap jadi pribadi kuat.
Wallahu a'lam bisshowab....
#Jadilah pribadi seperti besi
#Tinggalkan pribadi seperti kaca

Kamis, 15 Agustus 2019

Secangkir teman hidup

Ibarat minum Kopi tanpa gula rasanya pasti hambar
Begitupun dengan kehidupan, bila hidup tanpa masalah rasanya tak ada bedanya dengan mati





https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwioyICEsYbkAhXEqo8KHZ1YAB4QMwjqAShhMGE&url=https%3A%2F%2Fuzone.id%2Fdisukai-banyak-orang-ternyata-minum-kopi-bisa-picu-kanker-darah-sejak-dini&psig=AOvVaw3d1-KGKBAG0BRAl7lWqfZ-&ust=1566010278503007&ictx=3&uact=3

  Pyok..Pyok...Pyok (Suara anak kecil yang sedang mainan air dalam selokan depan rumah)
Saat itu, datanglah seorang laki-laki bertubuh kurus dan bermuka sudah keriput mengetuk pintu rumahku, tanpa berpikir panjang kuraih gagang pintu dan kubuka ...
laki-laki itu diam tanpa kata dan hanya menyodorkan sebuah undangan yang bertuliskan namaku, Sariman.
Aku terheran dengan lagat laki-laki ini, kenapa dia ketuk pintuku dan tanpa ucapkan salam kepadaku, karena penasaran, aku kembali melontarkan balasan ucapan terimkasih kepada bapak ini. Namun, bapak ini tetap saja diam seribu kata dan bergegas membalikkan wajah dan tubuhnya. Karena tanpa sahutan, aku memutuskan untuk mengikuti laki-laki ini dari jarak kejauhan. Berjarak 35 km dari masjid jami', laki-laki kurus itu memunguti botol bekas yang ada dalam tong sampah. Kuputuskan kembali untuk seharian ini mengikuti jejak langkah kaki laki-laki kurus itu, sesampainya di sebuah rumah tanpa atap genteng dan berdindingkan sebuah bambu rapuh ini, laki-laki tersebut masuk ke rumah dan menghampiri ke empat anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Dengan perasaan semakin penasaran, aku putuskan untuk mendekati satu dari keempat anak kecil yang sedang bermain petak umpet tadi, kutanya dia dengan sangat lembut dan perasaan penuh harap, "Dik, laki-laki yang masuk ke rumah itu siapa?" Anak kecil itu menjawab, "dia adalah Pak Kardi, orang yang sudah membesarkan kami sejak kami lahir ke dunia ini.
Meneteskan air mata......
Fikiranku kemudian menyahuti hatiku dan berkata, Pak Kardi adalah seorang malaikat yang tak bersayap dan dikirim Tuhan untuk menjadi sosok pejuang kehidupan.
Pak Kardi, adalah seorang pemulung yang memiliki jiwa dermawan bak Malaikat kehidupan. Ia merupakan seorang yang bisu, tuli akan tetapi amat sayang pada semua orang, dibalik ujiannya yang tinggal tanpa seorang istri dan harus menghidupi empat anak kecil yang ia temukan saat memungut sampah di dekat taman bunga kala itu. Pak Kardi rela melakukan semua pekerjaan yang ada tanpa memikirkan berapa ongkos yang akan ia terima saat bekerja, yang ada di dalam prinsip hidupnya adalah aku tidak memberatkan hidup orang lain dan aku mampu memungut rezeki yang telah Allah sebar dengan kedua tanganku ini.
Subhanallah......
Merinding aku mendengar jawaban Pak Kardi
Meskipun, ke empat anak kecil itu bukan anak yang lahir dari istrinya, Pak Kardi mengasihi mereka dengan rasa penuh kasih sayang. Pak Kardi menyiapkan makan mereka dengan lauk pauk seadanya kerupuk rambak dan empat potong tempe goreng. Mereka terlihat sangat bahagia dan langsung meraihnya dengan tangan mungilnya, mereka makan berempat sedang Pak Kardi hanya diam memandangi wajah lucu mereka..
Matahari telah menenggelamkan wajahnya, bergegaslah aku menenteng tas warna cokelatku sambil kupegang kedua tanganku berjalan ke arah utara masjid jami' menuju tempat tinggalku.
Setelah adzan maghrib, sepulang dari masjid jami' ku putuskan untuk menghampiri warung kopi samping kiri dari masjid. Ku pesan dua cangkir kopi yang berbeda racikan. Secangkir kopi tanpa gula dan secangkir dengan gula. Sedikit demi sedikit ku coba nikmati. Pertama aku nikmati secangkir kopi tanpa gula rasanya benar-benar pahit, yang kedua aku nikmati secangkir kopi dengan gula rasanya sangatlah manis. Setiap tegukan kopi yang kunikmati ini, kusisipkan ingatan tentang Pak Kardi. Hidup Pak Kardi ini ibarat racikan kopi yang berawal dari bijih kopi yang sudah masak kemudian dijemur di bawah panas terik matahari dan dihaluskan sehingga menjadi bubuk kopi. Bukan bubuk kopi yang biasa, akan tetapi menjadi bubuk kopi yang harum dan lezat.
"Hidup ini bukan soal seberapa banyak harta yang kita kumpulkan setiap harinya, namun pada seberapa banyak kita mampu menebar kebaikan dari setiap harta yang kita dapatkan setiap harinya, harta bukan soal uang saja namun keluarga,anak,istri,ketenangan dan kebahagian, serta mampu bangkit dari keadaan itulah harta sebenarnya"

Dari kisah ini kita mendapatkan pelajaran berharga mengenai kehidupan, bahwa manusia hidup ini penuh masalah tapi jangan jadikan masalah sebagai penghambat diri untuk terus berproses serta berprogres.
Rasulullah saw. sendiri meminta pada Allah agar tidak memusnahkan masalah akan tetapi untuk memudahkan masalah, tujuannya adalah agar menuju insan yang muttaqiin. Insan yang terus menikmati sebuah proses dan melakukan perbaikan, perbaikan hubungan kita pada sesama manusia (Hablumminannaas) dan hubungan kita pada Allah swt sebagai pencipta kita (Hablumminaallah).
Wallahu a'lam bisshowab.........


Semoga kita menjadi golongan orang-orang yang beruntung (Muflikhun). Aamiin yaa robbal 'aalamiin.


Menginjak sebongkah kenangan


                                                            
"Takdir masih pada bumi dataran yang sama"

    Saat ku buka dua kelopak mata sekitaran pukul 03.45,rasanya katup mataku ingin terbuka dengan jelas dan berharap aku telah berpindah tuk berpijak di kota kelahiranku. Namun rasanya ini hanyalah sebuah angan-angan yang belum tersampaikan. 
Waktu itu, aku duduk termenung sebelum bergegas mengarahkan kaki tuk menuju kamar mandi. Di atas kasur spons tipisku,aku teringat dengan wejangan ibukku di kala dulu masih di bangku SD. Ibukku dulu selalu berkata kepadaku,"nduk, tiyang seng apik iku seng gelem nyukuri opo seng dewe kadhuweni" bahasa Indonesianya(nak,orang yang baik itu adalah orang yang mau mensyukuri apapun yang kita punyai).
Tiba-tiba aku mulai terngiang dengan kata-kata itu, entah kenapa rasanya kata-kata itu yang selalu menancap di ubun-ubunku sejak pagi itu.
   Tak terasa aku telah meninggalkan tanah kelahiranku selamakurang lebih lima tahun, Juni 2014 sampai sekarang. Aku mengucurkan air mata sampai membasahi kaos biru yang kupakai saat itu, aku putar kembali segelintir kisah di kala itu. Ya,tahun 2001 tepat di bulan desember malaikat sebelahku dipanggil oleh Sang Maha Esa. Masa dimana aku masih belum sempurna mengucapkan dan menulis kata,memaknai makna dan bahasa. Saat itu, aku masih usia Taman Kanak-kanak. Aku yang selalu berusaha mengajak mengobrol dengan gaya pelatku pada sang Malaikatku, namun ia hanya terbaring polos tanpa jawaban. Iya, siapa sangka ayahku... beliau adalah sosok ayah yang pemberani,tak kenal lelah, dan tanggungjawab. Pemberani karena beliau menjadi bagian pejuang kemerdekaan RI, menjadi pemantik asa di keluargaku, dan ayah yang baik buat aku dan kelima saudara kandungku.
   Di bulan itu..ingatanku masih soal terbaring kaku, ayahku sakit dan akupun tak paham sakit apa dikala itu, yang kupahami saat itu hanya seputar bermain dan memenuhi waktuku dengan bermanja selalu.
Malam harinya,jam dinding terus berdenting hingga pukul 17.00 sore,ketika ayahku akan diberikan obat oleh saudaraku, ayahku sudah tak mampu memasukkan obat ke tenggorokannya, ayahku membuang dengan sangat keras tangan kakakku, hingga obatpun jatuh..dan ssst....susana menjadi hening dan tibalah ayahku mengatupkan mata tuk selamanya.Rasanya takmampu dijelaskan hiruk-pikuk pikiran membuncah menjadi satu.

Di usia yang masih bisa dibilang belia, aku tak paham dengan sebutan haji, ibukku berulang kali mengatakan padaku kalau ayahku sedang berangkat haji. Dengan polosnya, aku meng-iyakan saja. Hari demi hari terus berganti. aku mulai sedikit mencari arti haji, begitu polosnya, keesokan harinya setelah ayahku haji, aku memanggil dengan ucapan santai, "ayah...ayah...ayah, dimana ibu?"   
ibu berulang kali mengatakan, kalau ayahku sedang berangkat haji. Hingga usia kelas satu sekolah dasar, aku baru paham kalau kata haji menurut ibuku adalah mati. Aku menangis karena posisiku saat itu melihat anak seusiaku dibonceng dengan sepeda unto (sebutan sepeda pancal yang antik zaman belanda dulu), aku meneteskan air mata sembari itu aku pulang ke rumahku dengan guyuran tangis isak karena kerinduanku pada ayahku. Sesampainya di rumah, ibukku menanyaiku, kenapa aku menangis? dan aku menjawab dengan enteng aku rindu ayah,seketika itu ibukku mendekatiku dan mendekap tubuh mungilku.
Suasana itu masih sama hingga aku selesai di bangku sekolah madrasahku, aku masih terngiang akan keinginan bisa bercanda tawa dengan ayahku. Namun rasanya itu tak mungkin akan terjadi sampai kini ataupun nanti. 
Setelah masuk Aliyah, aku paham akan arti sebuah kematian akupun ingat ketika Bu Sun, guru akidah akhlakku menyampaikan materi tentang kematian. Bu Sun dengan suara merdunya menyampaikan materi ujian berupa kematian, yang artinya “Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran : 185).Dari sepenggal ayat tersebut, aku mulai sadar bahwa hidup ini hanyalah titipan, apa yang kita punya hanyalah kepunyaan yang sifatnya tiada hakiki, sebab suatu saat apabila waktu yang telah ditentukan akan menghampiri dan mau tidak mau kita harus menerimanya dengan lapang dada.

Namun,akupun saat itu tak mapu menahan tetesan air mata. Aku kemudian izin keluar dengan menutupi isak tangisanku, aku mencoba tegar dengan kisahku. Saat itu juga, aku memutuskan untuk kembali ke kelas dan menahan kesedihanku. Aku terus bernafas agar guyuran air mataku tak keluar dari bola mataku, sedikit demi sedikit aku selalu melatihnya. alhamdulillah, air mataku tak keluar. Dan dari situlah aku mulai yakin bahwa ada hikmah manis yang ingin Allah sampaikan buat aku. Wallahu a'lam bisshowab....

Keesokan harinya,aku masih melakukan aktifitas sekolahku seperti biasa dan berusaha menyembunyikan kerinduanku pada ayahku. Iya, ayahku kenapa bukan ibukku? Jawabku singkat karena rindu. Sebongkah kenangan ini masih pekat dan melekat ke hatiku sampai kini. 
Kataku dalam hati, ayahku ada dia bersemanyam indah di lubuk hatiku.

   Madura, 10 agustus 2019 tepat di malam menjelang idhul adha keesokan harinya, gema takbir terus berkumandang dan sambil bersahut-sahutan antar masjid dan mushola, air mataku tak mampu aku bendung dan akhirnya mengalirlah... entah sudah idhul adha yang ke-23 ini tetap sama impianku masih sama, yakni menapaki rindu pada ayahku.. 
Apalagi di bulan agustus ini ada dua sejarah penting yakni idhul adha dan hari bersejarahnya Negara Indonesia, sebuah bulan yang di dalamnya penuh dengan perjuangan dan kemerdekaan. Bulan yang menginsyaratkan rinduku untuk terus terkobar.. I love ayah,

Harapanku "Semoga kau tenang di alam sana bapak",salam rindu dari anak terakhirmu. 


Untuk Indonesia, negeri tercintaku
Untuk Bojonegoro, kota kelahiranku
Untuk Rumahku, tanah kelahiranku
Untuk Ibukku, wanita tegar sepanjang waktu