Malam semakin larut cahaya hitam mulai memenuhi kumpulan awan yang berwarna merah kesemuan
Aku beranjak pulang dari kegiatan mengajar TPQ.
Saat itu, aku tinggal di pemukiman yang berjarak kurang lebih 20 hasta dari TPQ tempatku mengajar kawanan kecil berjilbab biru.
Oh ya perkenalkan namaku Satino, aku anak seorang pande besi di desa Pasar Jambe. Tiap hari masa hariku diisi dengan kegiatan yang mayoritas berada dalam masjid, membersihkan sampah di sekitar masjid, menata al qur'an dan mukena milik masjid, dan mengajar TPQ di masjid. Begitulah hari-hariku.
Musim riyaya besar (sebutan waktu untuk tibanya musim orang pergi ke tanah suci dan musim orang menikah). Di Musim itu sangatlah ramai orang punya gawe
Karena banyak teman sekawanku juga yang sudah banyak menikah, akhirnya kegelisahanku juga semakin berkecamuk dan terbesit tanya di hati... Karena banyak untaian kata yang ditujukan padaku oleh masyarakat daerahku,
Aku bingung.. Aku murung...
Suatu ketika, ada laki-laki bertubuh lancong, berdada besar dan berkumis datang ke rumahku untuk yang pertama kalinya, ia masuk ke rumah dan menemui ibuku.
Laki-laki itu bertanya kepada ibukku... Tentang bagaimana aku, kebetulan hari itu hari kamis ba'dha ashar, setelah berbicara sangat lama, laki-laki itu memutuskan untuk pulang... Selang beberapa minggu kemudian, laki-laki itu tiada kabar. Tak lama kemudian, datang kembali pada pintu rumahku laki-laki berbadan krempeng dan berambut ikal menghampiri ibukku dan menanyakan tentangku.. Setelah berbicara agak lama, laki-laki itu berfikir cukup lama... Dan tiba-tiba meminta diri untuk pulang...
Dua bulan kemudian... Si laki-laki ini juga tak kunjung ada kabar...
Aku semakin bingung dan tak tahu apa yang harus aku lakukan... Ya, kondisiku lagi di luar kota jauh dari kota kelahiranku. Aku memutuskan untuk berbicara dengan takdirku, mengapa aku begini, mengapa kejadiannya begini, sayangkah tuhanku padaku?
Aku memutuskan untuk tabarukkan ke rumah guruku dulu semasa menjadi anak pondok di Madin "Insan Kariim".
Setelah perjalanan panjang, aku berhasil menemui guruku dulu.. Guruku berkata padaku, nikmati masa mudamu dan berjuanglah untuk agamamu, kamu jangan khawatir akan nasibmu, yakinlah di sana akan ada laki-laki tampan dan sholih yang setia tuk jadikan seorang suami, memang merubah nasib itu sulit tapi dengan keyakinan kamu pasti bisa. Bukankah Allah sudah berfirman dalam surat ar rum ayat 21?
"Dan telah diciptakan oleh-Nya manusia beserta pasangannya? "
Aku tak nangis dan hanya tersenyum melihat kata-kata guruku,
Dan akhirnya setelah lama berbincang-bincang soal jodoh aku pulang dan memutuskan untuk memperbaiki diri.
Aku memberikan sentimen pada fikiranku... Kalau aku mau jodoh, berarti amal ibadahku harus di tingkatkan lagi.
Selang beberapa dentingan penunjuk jam, guru-guruku tiba-tiba membisikkan kata-kata di telingaku ... Jodohmu sudah ada ndok.. Tinggal menunggu waktu yang pas saja. Bersabarlah bukan kah Allah Menyukai sekali orang yang sabar dan beserah diri?
Di usiamu yang segini pasti banyak laki-laki yang keluar masuk rumah tuk menanyakan hatimu,
Tapi percayakan semuanya pada Sang Pemilik hati, bahwa pasangan hidup yang baik adalah yang mampu mengantarkanmu ke pintu depannya surga, mampu mengarungi desiran ombak samudra bersama dan menyelupi kebahagian dan kesusahan bersama.
Aku beranjak pulang dari kegiatan mengajar TPQ.
Saat itu, aku tinggal di pemukiman yang berjarak kurang lebih 20 hasta dari TPQ tempatku mengajar kawanan kecil berjilbab biru.
Oh ya perkenalkan namaku Satino, aku anak seorang pande besi di desa Pasar Jambe. Tiap hari masa hariku diisi dengan kegiatan yang mayoritas berada dalam masjid, membersihkan sampah di sekitar masjid, menata al qur'an dan mukena milik masjid, dan mengajar TPQ di masjid. Begitulah hari-hariku.
Musim riyaya besar (sebutan waktu untuk tibanya musim orang pergi ke tanah suci dan musim orang menikah). Di Musim itu sangatlah ramai orang punya gawe
Karena banyak teman sekawanku juga yang sudah banyak menikah, akhirnya kegelisahanku juga semakin berkecamuk dan terbesit tanya di hati... Karena banyak untaian kata yang ditujukan padaku oleh masyarakat daerahku,
Aku bingung.. Aku murung...
Suatu ketika, ada laki-laki bertubuh lancong, berdada besar dan berkumis datang ke rumahku untuk yang pertama kalinya, ia masuk ke rumah dan menemui ibuku.
Laki-laki itu bertanya kepada ibukku... Tentang bagaimana aku, kebetulan hari itu hari kamis ba'dha ashar, setelah berbicara sangat lama, laki-laki itu memutuskan untuk pulang... Selang beberapa minggu kemudian, laki-laki itu tiada kabar. Tak lama kemudian, datang kembali pada pintu rumahku laki-laki berbadan krempeng dan berambut ikal menghampiri ibukku dan menanyakan tentangku.. Setelah berbicara agak lama, laki-laki itu berfikir cukup lama... Dan tiba-tiba meminta diri untuk pulang...
Dua bulan kemudian... Si laki-laki ini juga tak kunjung ada kabar...
Aku semakin bingung dan tak tahu apa yang harus aku lakukan... Ya, kondisiku lagi di luar kota jauh dari kota kelahiranku. Aku memutuskan untuk berbicara dengan takdirku, mengapa aku begini, mengapa kejadiannya begini, sayangkah tuhanku padaku?
Aku memutuskan untuk tabarukkan ke rumah guruku dulu semasa menjadi anak pondok di Madin "Insan Kariim".
Setelah perjalanan panjang, aku berhasil menemui guruku dulu.. Guruku berkata padaku, nikmati masa mudamu dan berjuanglah untuk agamamu, kamu jangan khawatir akan nasibmu, yakinlah di sana akan ada laki-laki tampan dan sholih yang setia tuk jadikan seorang suami, memang merubah nasib itu sulit tapi dengan keyakinan kamu pasti bisa. Bukankah Allah sudah berfirman dalam surat ar rum ayat 21?
"Dan telah diciptakan oleh-Nya manusia beserta pasangannya? "
Aku tak nangis dan hanya tersenyum melihat kata-kata guruku,
Dan akhirnya setelah lama berbincang-bincang soal jodoh aku pulang dan memutuskan untuk memperbaiki diri.
Aku memberikan sentimen pada fikiranku... Kalau aku mau jodoh, berarti amal ibadahku harus di tingkatkan lagi.
Selang beberapa dentingan penunjuk jam, guru-guruku tiba-tiba membisikkan kata-kata di telingaku ... Jodohmu sudah ada ndok.. Tinggal menunggu waktu yang pas saja. Bersabarlah bukan kah Allah Menyukai sekali orang yang sabar dan beserah diri?
Di usiamu yang segini pasti banyak laki-laki yang keluar masuk rumah tuk menanyakan hatimu,
Tapi percayakan semuanya pada Sang Pemilik hati, bahwa pasangan hidup yang baik adalah yang mampu mengantarkanmu ke pintu depannya surga, mampu mengarungi desiran ombak samudra bersama dan menyelupi kebahagian dan kesusahan bersama.
Belajarlah menjadi pribadi seperti besi, yang ditempa berulang kali dengan sangat keras akhirnya menjadi sebuah bentuk olahan besi yang membentuk berbagai macam bentuk, misalnya jadi pagar, jadi tiang dan alas rumah. Dan hindari diri mrnjadi pribadi seperti kaca yang mudah rapuh saat terbanting.
Ku harap kau jadi besi yang kuat dan memiliki jual yang tinggi.
Tak perlu menangisi keadaan, jangan takut soal jodoh ataupun pasangan hidup. Isak tangis hanyalah dimiliki oleh dia yang tak siap jadi pribadi kuat.
Wallahu a'lam bisshowab....
Ku harap kau jadi besi yang kuat dan memiliki jual yang tinggi.
Tak perlu menangisi keadaan, jangan takut soal jodoh ataupun pasangan hidup. Isak tangis hanyalah dimiliki oleh dia yang tak siap jadi pribadi kuat.
Wallahu a'lam bisshowab....
#Jadilah pribadi seperti besi
#Tinggalkan pribadi seperti kaca
#Tinggalkan pribadi seperti kaca


