Saat ku buka dua kelopak mata sekitaran pukul 03.45,rasanya katup mataku ingin terbuka dengan jelas dan berharap aku telah berpindah tuk berpijak di kota kelahiranku. Namun rasanya ini hanyalah sebuah angan-angan yang belum tersampaikan.
Waktu itu, aku duduk termenung sebelum bergegas mengarahkan kaki tuk menuju kamar mandi. Di atas kasur spons tipisku,aku teringat dengan wejangan ibukku di kala dulu masih di bangku SD. Ibukku dulu selalu berkata kepadaku,"nduk, tiyang seng apik iku seng gelem nyukuri opo seng dewe kadhuweni" bahasa Indonesianya(nak,orang yang baik itu adalah orang yang mau mensyukuri apapun yang kita punyai).
Tiba-tiba aku mulai terngiang dengan kata-kata itu, entah kenapa rasanya kata-kata itu yang selalu menancap di ubun-ubunku sejak pagi itu.
Tak terasa aku telah meninggalkan tanah kelahiranku selamakurang lebih lima tahun, Juni 2014 sampai sekarang. Aku mengucurkan air mata sampai membasahi kaos biru yang kupakai saat itu, aku putar kembali segelintir kisah di kala itu. Ya,tahun 2001 tepat di bulan desember malaikat sebelahku dipanggil oleh Sang Maha Esa. Masa dimana aku masih belum sempurna mengucapkan dan menulis kata,memaknai makna dan bahasa. Saat itu, aku masih usia Taman Kanak-kanak. Aku yang selalu berusaha mengajak mengobrol dengan gaya pelatku pada sang Malaikatku, namun ia hanya terbaring polos tanpa jawaban. Iya, siapa sangka ayahku... beliau adalah sosok ayah yang pemberani,tak kenal lelah, dan tanggungjawab. Pemberani karena beliau menjadi bagian pejuang kemerdekaan RI, menjadi pemantik asa di keluargaku, dan ayah yang baik buat aku dan kelima saudara kandungku.
Di bulan itu..ingatanku masih soal terbaring kaku, ayahku sakit dan akupun tak paham sakit apa dikala itu, yang kupahami saat itu hanya seputar bermain dan memenuhi waktuku dengan bermanja selalu.
Malam harinya,jam dinding terus berdenting hingga pukul 17.00 sore,ketika ayahku akan diberikan obat oleh saudaraku, ayahku sudah tak mampu memasukkan obat ke tenggorokannya, ayahku membuang dengan sangat keras tangan kakakku, hingga obatpun jatuh..dan ssst....susana menjadi hening dan tibalah ayahku mengatupkan mata tuk selamanya.Rasanya takmampu dijelaskan hiruk-pikuk pikiran membuncah menjadi satu.
Di usia yang masih bisa dibilang belia, aku tak paham dengan sebutan haji, ibukku berulang kali mengatakan padaku kalau ayahku sedang berangkat haji. Dengan polosnya, aku meng-iyakan saja. Hari demi hari terus berganti. aku mulai sedikit mencari arti haji, begitu polosnya, keesokan harinya setelah ayahku haji, aku memanggil dengan ucapan santai, "ayah...ayah...ayah, dimana ibu?"
ibu berulang kali mengatakan, kalau ayahku sedang berangkat haji. Hingga usia kelas satu sekolah dasar, aku baru paham kalau kata haji menurut ibuku adalah mati. Aku menangis karena posisiku saat itu melihat anak seusiaku dibonceng dengan sepeda unto (sebutan sepeda pancal yang antik zaman belanda dulu), aku meneteskan air mata sembari itu aku pulang ke rumahku dengan guyuran tangis isak karena kerinduanku pada ayahku. Sesampainya di rumah, ibukku menanyaiku, kenapa aku menangis? dan aku menjawab dengan enteng aku rindu ayah,seketika itu ibukku mendekatiku dan mendekap tubuh mungilku.
Suasana itu masih sama hingga aku selesai di bangku sekolah madrasahku, aku masih terngiang akan keinginan bisa bercanda tawa dengan ayahku. Namun rasanya itu tak mungkin akan terjadi sampai kini ataupun nanti.
Setelah masuk Aliyah, aku paham akan arti sebuah kematian akupun ingat ketika Bu Sun, guru akidah akhlakku menyampaikan materi tentang kematian. Bu Sun dengan suara merdunya menyampaikan materi ujian berupa kematian, yang artinya “Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran : 185).Dari sepenggal ayat tersebut, aku mulai sadar bahwa hidup ini hanyalah titipan, apa yang kita punya hanyalah kepunyaan yang sifatnya tiada hakiki, sebab suatu saat apabila waktu yang telah ditentukan akan menghampiri dan mau tidak mau kita harus menerimanya dengan lapang dada.
Namun,akupun saat itu tak mapu menahan tetesan air mata. Aku kemudian izin keluar dengan menutupi isak tangisanku, aku mencoba tegar dengan kisahku. Saat itu juga, aku memutuskan untuk kembali ke kelas dan menahan kesedihanku. Aku terus bernafas agar guyuran air mataku tak keluar dari bola mataku, sedikit demi sedikit aku selalu melatihnya. alhamdulillah, air mataku tak keluar. Dan dari situlah aku mulai yakin bahwa ada hikmah manis yang ingin Allah sampaikan buat aku. Wallahu a'lam bisshowab....
Keesokan harinya,aku masih melakukan aktifitas sekolahku seperti biasa dan berusaha menyembunyikan kerinduanku pada ayahku. Iya, ayahku kenapa bukan ibukku? Jawabku singkat karena rindu. Sebongkah kenangan ini masih pekat dan melekat ke hatiku sampai kini.
Kataku dalam hati, ayahku ada dia bersemanyam indah di lubuk hatiku.
Madura, 10 agustus 2019 tepat di malam menjelang idhul adha keesokan harinya, gema takbir terus berkumandang dan sambil bersahut-sahutan antar masjid dan mushola, air mataku tak mampu aku bendung dan akhirnya mengalirlah... entah sudah idhul adha yang ke-23 ini tetap sama impianku masih sama, yakni menapaki rindu pada ayahku..
Apalagi di bulan agustus ini ada dua sejarah penting yakni idhul adha dan hari bersejarahnya Negara Indonesia, sebuah bulan yang di dalamnya penuh dengan perjuangan dan kemerdekaan. Bulan yang menginsyaratkan rinduku untuk terus terkobar.. I love ayah,
Harapanku "Semoga kau tenang di alam sana bapak",salam rindu dari anak terakhirmu.
Untuk Indonesia, negeri tercintaku
Untuk Bojonegoro, kota kelahiranku
Untuk Rumahku, tanah kelahiranku
Untuk Ibukku, wanita tegar sepanjang waktu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar